Thursday, June 11, 2009

Cinta = nafsu

Banyak muda-mudi jaman sekarang yang asyik masyuk terseret dalam pergaulan bebas. Pacaran seolah menjadi budaya. Pacaran menjadi nuansa bagi mereka untuk menuangkan rasa cinta pada sang kekasih. Rasa rindu ingin bertemu selalu menghantui mereka, para remaja yang sedang dimabuk cinta. Malangnya, ajang bercengkerama dua anak manusia berlainan jenis (bukan muhrim) ini lebih digemari dari pada membaca buku-buku motivasi atau kegiatan positif lainnya. Lebih malang lagi, tontonan sinetron-sinetron di televisi lebih memperparah lagi keadaan ini.

Tak dapat dipungkiri lagi, di masa sekarang, ada keprihatinan mendalam di balik fenomena itu. Dengan “mengatasnamakan cinta”, muda-mudi itu banyak yang lupa akan batasan-batasan yang digariskan agama. Melalui ajang yang disebut pacaran itu, terjadilah sebuah interaksi intensif dari perasaan saling suka, sering bertemu, dan seterusnya yang berujung pada terjadinya berbagai kontak fisik dalam kesempatan yang sepi berdua. Tak jarang mereka sampai terjerumus ke jurang perzinaan, karena tak bisa mengendalikan diri. Akhirnya, hubungan yang awalnya istimewa bagi mereka, menjadi penyebab terjadinya dosa besar dan hancurnya masa depan bagi pelakunya. Sekali lagi, sebelumnya mereka melakukannya dengan “mengatas namakan cinta”.




Ada kisah nyata seorang wanita yang dulu jadi teman sekelas semasa SD. Dia adalah gadis yang manis menurut penilaian umum. Walau sedikit centil, ia banyak disukai teman-temannya. Sejak SD ia sudah telibat hubungan asmara dengan kakak kelas yang juga masih tetangga saya. Walau itu mungkin cinta monyet, namun kisah itu terus berlanjut hingga SMA. Malangnya, ketika masih kelas 1 SMA, si gadis ternyata telah berbadan dua sehingga mau tidak mau harus kawin sangat muda. Tak berapa lama, keluarlah anaknya dari rahimnya sehingga dapat dikata ABG (Anak Baru Gede) tiba-tiba mengeluarkan anak yang bisa “gede”. Setelah semua itu terjadi, hilanglah masa-masa indah si gadis dalam berproses menjadi manusia dewasa. Dia harus menjadi sosok ibu di saat jiwanya masih pancaroba, sementara gadis-gadis lain sedang menikmati kebebasan mencari jati diri. Dia kini kelihatan sudah tua dengan badan gemuknya layaknya ibu-ibu kelahiran era 70an. Kecantikannya hanya terlihat sekejap mata setelah bencana itu tak dapat dihindarinya. Ia telah kehilangan masa mudanya…
****************
"dikutip dari google"

Lalu, siapa yang salah?



Begitu naifkah, kata cinta yang harusnya dijaga kesuciannya, menjadi ternoda. Lalu, benarkah itu cinta? Ataukah hanya nafsu yang terkamuflase? Jadi, ketika sepasang muda-mudi sedang asyik berduaan, sebenarnya cinta ataukah nafsu mereka yang “berbicara”? Apakah emosi ataukah akal sehat mereka yang lebih dominan?

Jika ada seorang gadis yang berkata pada kekasihnya, “Kuserahkan segala milikku untukmu sebagi bukti cintaku padamu…” Dia menganggap itu sebagai sebuah pengorbanan karena cinta. Tapi begitukah pengorbanan untuk cinta? Ataukah itu untuk nafsu?

Ada seorang pemuda menanyakan pada pacarnya, “Bila kau benar cinta padaku, apa buktinya?” Atau dalam kesempatan lain, “Sebagai bukti cinta, maukah kau kucium, kupeluk… (dan seterusnya).” Atau dalam kasus lain, jika yang minta ini itu adalah sang gadis, dan ketika si pemuda menolaknya lantas dibilang pengecut. Apakah harus begitu membuktikan cinta?

Begitu mudahkah mengatas namakan “cinta” untuk suatu perbuatan dosa. Apakah itu benar cinta, atau itukah yang dinamakan nafsu? Yah, sebagai makhluk jenius yang dikaruniai akal budi yang sempurna, kita sebagai manusia pasti tahu perbedan keduanya, antara nafsu dan cinta. Dan sebagai generasi muda yang terpelajar, sudah sepantasnyalah kita tidak mencampuradukkan kedua hal itu untuk melegalkan hasrat (baca: hawa nafsu) kita.

Sekarang adalah era informasi yang serba canggih, bukan era manusia gua ratusan abad yang lalu. Manusia semakin cerdas dan punya peradaban tinggi. Jadi, harus tahu apa itu arti cinta yang sesungguhnya, dan jangan menodai makna cinta dengan pelampiasan hasrat nafsu birahi dengan mengatasnamakan cinta.

Begitu parahnya pergaulan bebas muda-mudi di jaman ini, yang melegalkan perbuatan maksiat sebagai sebuah kebiasaan yang wajar. Hal itu bukan tanpa bukti. Ada wanita yang berkisah langsung dan katanya ingin bertaubat. Ada juga laki-laki yang berkisah dengan perasaan bangga tanpa ada niat memperbaiki diri sedikitpun. Ada juga cerita dari teman yang sering dijadikan curhat teman-temannya. Pendek kata, kita harus mengurut dada mengetahui realitas kelabu ini. Mereka ada di tengah-tengah kita. Itu terjadi di tengah-tengah kita.

Belum lagi banyaknya kasus-kasus pergaulan intim muda-mudi di luar nikah yang menghebohkan, direkam layaknya film dokumenter, namun akhirnya aib itu tersebar. Dan bagi si pelaku, pasti malu yang tak terkira harus mereka tanggung. Juga bagi keluarganya, itu semua menjadi aib yang memalukan, menghancurkan martabat keluarga, dan meluluhlantakkan segala kebanggaan. Ironisnya, pelakunya kebanyakan adalah sepasang kekasih yang masih pelajar atau mahasiswa. Lebih ironis lagi, mereka melakukannya atas nama cinta.

Pertanyaannya: apakah semua itu hanya dibiarkan saja? Atau hanya jadi bahan pemberitaan belaka?

Nama cinta bukanlah untuk sesuatu yang nista. Cinta adalah anugerah Yang Kuasa yang harus kita jaga kesuciannya. Jika kita mencintai kekasih kita, maka dengan cinta itulah kita menjaganya, bukan menodainya. Cinta selalunya suci dan mulia bila ia dimiliki oleh seorang “pecinta sejati”. Banyak kisah cinta yang menjadi legenda. Tajmahal yang indah di negeri India tercipta karena cinta. Rabiah Al Adawiyah menjadi legenda sufi wanita karena cintanya pada Sang Pencipta.

Pasangan legenda Rama–Shinta, Romeo–Juliet, Kais–Laila, menjadi kisah sepanjang masa karena cinta mereka. Tidak ada kisah melegenda tentang nafsu yang tak terkendali dalam hubungan dua insan lain jenis tanpa ikatan pernikahan. Adanya hanyalah skandal, perselingkuhan, perzinaan, dan nama lain sejenis yang amoral.

Jadi, jangan katakan ‘cinta’ jika kita tidak bisa memaknainya dengan makna yang sebenarnya. Jangan samakan cinta dengan nafsu hanya karena kita kurang kendali diri. Jangan mengkambinghitamkan cinta sebagai sarana pelampiasan nafsu. Dan yang lebih penting lagi, pergaulan bebas tak akan terjadi bila muda-mudi kita bisa memaknai cinta dengan sebenarnya dan memegang teguh ajaran agama dengan istiqomah (konsisten) sampai tiba masanya gerbang pernikahan terbuka.

Tuesday, May 26, 2009

Selamat tinggal cinta







kini telah terjaga ..

apa yang tak pernah tergapai ..

sudah ku bertahan ..

sudah ku menangis ..

tapi surya itu pun tak perpihak ..

topan itu berhembus kencang ..

terbang lah terbawa kenangan ..

hati tersayat janji terajut tak pernah terungkap lagi ..

slamt tinggal cinta ..

slamt tingal ini sudah tak berarti ..

aku bukan untuk mu ..

cinta itu tak tergores untukku.

selamt tinggal cintaku ... T.T






Monday, May 25, 2009

Facebook haram atau syubhat .. ??

Kita akan memupuk kekuatan Facebook dan bukan menampiknya (sebagaimana dilakukan oleh kaum teknofobia) kaum yang anti dan Benci Facebook.
Atau menerimanya secara membabi buta (sebagaimana dilakukan oleh kaum teknofilia) Cinta Buta kepada Facebook.

Yang berkumpul di kediri bukan satu,dua ulama 700 dan mereka bukan berpikir dengan otaknya tapi dengan hati dan nuraninya, kita juga harus lebih arif melihat, kenapa para ulama memutuskan Facebook Haram.

Kita yang sedang asyik dimabuk Facebook mungkin sulit berpikir dengan hati Apabila ijtihad yang mereka lakukan ternyata salah, maka mereka dimaafkan, dan hanya mendapatkan satu pahala. Kita para pengguna Facebook jangan seperti anak kecil yang mempunyai mainan baru dan diharuskan meninggalkannya langsung cemberut dan menyerang balik dengan membabi buta para ulama yang ber-ijtihad. Jika sesuatu lebih banyak mudharat dibanding manfaatnya, itu mungkin hukumnya Syubhat :


Setelah tingkatan perkara-perkara kecil yang diharamkan, maka di bawahnya adalah syubhat. Yaitu perkara yang tidak diketahui hukumnya oleh orang banyak, yang masih samar-samar kehalalan maupun keharamannya. Perkara ini sama sekali berbeda dengan perkara yang sudah sangat jelas pengharamannya.

Karena sesungguhnya manusia melakukan penyembahan terhadap Allah SWT berdasarkan hasil ijtihad mereka sendiri kalau memang mereka mempunyai keahlian untuk melakukannya. Apabila ijtihad yang mereka lakukan ternyata salah, maka mereka dimaafkan, dan hanya mendapatkan satu pahala.

Berbicara baik dan buruk, Halal dan Haram dari dampak Facebook Ibarat membahas siang-malam, langit-bumi, suka-duka, hitam-putih, utara dan selatan. Semua itu adalah paritas / pasangan yang pasti adanya, Tidak bisa kita membinasakan salah satu komponen itu sampai titik nol karena akan mengganggu keseimbangan kehidupan.

Facebook, dan kita dimabuk oleh kegairahannya yang menggebu-gebu. Kita tidak banyak membahas hal lain. Facebook merasuki kehidupan kita dari segala arah.

Kita mencintai Facebook tatkala Facebook itu berfungsi, kita membencinya tatkala Facebook itu tak jelas. Bagaikan buku panduan / readme yang tak pernah dibaca. Kita mencintai Facebook itu seperti mainan baru, namun kita membencinya tatkala mainan itu rusak.

Facebook berikrar akan membuat kehidupan kita menjadi lebih baik, lebih pintar, meningkatkan efektivitas dan kinerja serta membuat kita bahagia. Facebook berjanji akan lebih cepat, lebih murah dan lebih mudah dari semua yang pernah ada sebelumnya.

Facebook bersumpah menjadi landasan, akan menghubungkan kita dengan dunia luar namun tetap menjaga kita tetap dekat dengan para sahabat dan keluarga yang kita cintai.
Dunia alamiah kita ‘diatur’ oleh piranti lunak yang kian lama kian canggih. Kita merasa bahwa ada sesuatu yang tidak beres, namun kitapun tidak bisa menunjukkan apa sebenarnya yang salah.

"Kehampaan spiritual yang mengecewakan dan berbahaya serta mustahil keluar dari dalamnya. Kecuali kalau kita menyadari bahwa kita memang berada di dalamnya.
Kita tidak tahu siapa penemu air tapi yang pasti bukan ikan"

Terlalu dalam kita terbenam dalam Zona Mabuk Facebook sehingga bakat budi pekerti yang kita miliki ikut terpendam seperti yang pernah Tozie alami. Sukar sekali melihat dimana sesungguhnya kita berada.

Beruntunglah kita bukan ikan, ada Alim Ulama, seniman, teologiwan, sastrawan, Ilmuwan, Wiraswastawan, Cendekiawan, bahkan Polwan yang mengakui serta menyatakan dengan terang-terangan bahwa di satu pihak Facebook memang mendukung dan memperbaiki kehidupan manusia, akan tetapi mereka juga memperingatkan bahwa di pihak lain Facebook bisa mengucilkan, memencilkan mengaburkan dan menghancurkan.

Di dalam Facebook ada kebaikan dan keburukan, ada jalan ke syurga ataupun potensi menuju neraka, Di Facebook ada Selingkuh tapi juga ada Dakwah. Jangan coba-coba untuk membinasakan atau menghilangkan salah satu pihak, karena dengan mewaspadai Facebook kita dapat menguasai secara jernih relevansi Facebook yang ada sekarang dan membangun hubungan yang wajar dengannya.

Kita mulai mengantisipasi perkembangan Facebook, dan memperdebatkan terlebih dahulu kebaikan serta konsekuensi penerapannya.

Kita memang harus mencintai kemajuan, merasa gembira menjadi bagian dari kemajuan itu dan tidak takut menghadapinya,

Mencintai Facebook bermakna kita menghargainya, memaklumi kekeliruan dan keberhasilannya, mengindahkan semua sinyal peringatannya, mengakui semua kekuatannya, bersifat terbuka dan penuh perhatian mencermati, mendengarkan, menghadapi persoalan dengan jujur, bersikap filosofis menetapkan sejumlah standar, memahami masalah dan menyambut baik pendapat semua kalangan dan profesi.

Jika kita mencintai Facebook dengan penuh kesadaran dan bersikap mau menerima segala kekurangannya.

from http://blogger-pesta.blogspot.com

Tuesday, May 19, 2009

Sudahlah ..

Aku lelah…
diriku pasrah…
telah lama ingin ku mendengar kata cinta dari mu
atau rangkaian kalimat cintamu

ketegaran hatiku
telah sirna kini dari hidupku
jenuh aku menanti
kasih sayang darimu…

namun nyatanya aku pun tak berarti
aku bagaikan patung yang di pajang di sudut kota
menatap langit nan biru
berharap ada yang peduli
akan hadirKu disini

sudah…
sudah cukup…
penantianku sampai disini
ingin ku pergi saja dari hidup yang tersiksa,
ku tak sanggup tersakiti lebih dalam lagi……………





BILA AKU JATUH CINTA

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
cintakanlah aku pada seseorang yang
melabuhkan cintahnya pada-Mu,
agar bertambah kekuatanku untuk mencintaimu

Ya Allah, jika aku jatuh cinta,
jagalah cintaku padanya agar tidak
melebihi cintaku pada-Mu,

Ya Allah, jika aku jatuh hati,
izinkanlah aku menyentuh hati seseorang
yang hatinya tertaut pada-MU,
agar tidak terjatuh aku dalam jurang cinta semu.

Ya Rabbana, jika aku jatuh hati,
jagalah hatiku padanya agar tidak
berpaling dari hati-Mu.

Ya Rabbul Izzati, jika aku rindu,
rindukanlah aku pada seseorang yang
merindui syahid di jalan-Mu.



Ya Allah, jika aku rindu lagi,
jagalah rinduku padanya agar tidak lalai aku
merindukan syurga-Mu.

Ya Allah, jika aku menikmati cinta kekasih-Mu,
janganlah kenikmatan itu melebihi kenikmatan indahnya bermunajat
di sepertiga malam terakhirmu.

Ya Allah, jika aku jatuh hati pada kekasih-Mu,
jangan biarkan aku tertatih dan terjatuh dalam perjalanan panjang
menyeru manusia kepada-Mu.

Ya Allah, jika kau halalkan aku merindui kekasih-mu,
jangan biarkan aku melampaui batas sehinggah melupakan aku
pada cinta hakiki
dan rindu abadi hanya kepada-Mu.

Ya Allah Engkau mengetahui bahwa hati-hati ini telah berhimpun dalam cinta pada-Mu,
telah berjumpa pada taat pada-Mu,
telah bersatu dalam dakwa-Mu,
telah berpadu dalam membela syariat-Mu.

Kukukanlah Ya Allah ikatannya.
kekalkanlah cintanya.
Tunjukilah jalan-jalannya.
Penuhilah hati-hati ini
Dengan Nur-Mu yang tiada pernah pudar.

Lapangkanlah dada-dada
kami dengan limpahan keimanan kepada-Mu dan keindahan
bertawakal di jalan-Mu


amiend ya Allah .

plis .

 
Design by Free WordPress Themes | Bloggerized by Lasantha - Premium Blogger Themes | Best Buy Coupons